
BANDARLAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menghadiri pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest 2026 yang diinisiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung di Lampung City Mall, Jumat 18 September 2026.
Mirza, sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal, mengapresiasi kolaborasi BI yang mengintegrasikan ruang ide, inovasi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Idenya Siger Fest ini bagaimana mempertemukan ide, inovasi, investasi, dan kolaborasi. Ini sangat penting. Kami sadar punya target tumbuh 8 persen untuk mencapai Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Mirza memaparkan Lampung sebagai lumbung pangan strategis. Produksi gabah 3,5 juta ton dengan separuhnya menyuplai lintas provinsi, surplus jagung menopang industri unggas di DKI Jakarta dan Jawa.
Lampung juga menyuplai 70 persen tapioka nasional sekaligus menempatkan Indonesia peringkat kedua dunia, eksportir 60 persen kopi nasional, produsen lada terbesar, dan penghasil gula peringkat kedua.
Namun, kekayaan agraris belum optimal dirasakan petani akibat volatilitas harga komoditas mentah. Titik balik fundamental terjadi lewat intervensi perlindungan komoditas di era Presiden Prabowo Subianto.
Baru 30% Komoditas Dihilirisasi
“Selama 15 tahun pertumbuhan ekonomi Lampung selalu di bawah rata-rata nasional. 2026 kemarin kita nomor dua tertinggi se-Sumatra setelah Kepri, karena harga komoditas,” ujar Gubernur Mirza.
Geliat ekonomi perdesaan tercermin dari Dana Pihak Ketiga perbankan yang tumbuh hampir 7 persen secara tahunan (year-on-year).
Ke depan, Mirza menekankan keberlanjutan ekonomi tak bisa hanya disandarkan pada tata niaga. Hilirisasi yang baru mencakup 30 persen komoditas lokal menjadi prioritas sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
“Hari ini kami tumbuh karena didukung kebijakan Presiden, dipaksa naik harganya. Tapi ke depan untuk mencapai 8 persen tak bisa hanya dengan regulasi. Harus ada kolaborasi, kreativitas, inovasi, dan yang paling penting hilirisasi. Baru 30 persen komoditas kami dihilirisasi di Lampung,” tuturnya.
Strategi hilirisasi dirancang adaptif ke dalam dua pendekatan, yakni skala sentra perdesaan seperti industri pakan ayam lokal dan pascapanen kopi dan kakao, serta skala lanjut di kawasan industri manufaktur. Dorongan nilai tambah ini seiring lonjakan adopsi teknologi pertanian pascakenaikan hasil panen, dimana belanja alat mesin pertanian di Lampung naik hampir 200 persen dan armada logistik truk naik 50 persen.
Potensi akselerasi turut disokong diversifikasi energi baru terbarukan dan pariwisata melonjak 60 persen, dari 17 juta wisatawan pada 2024 menjadi 27 juta kunjungan pada 2025. Ditambah bonus demografi dengan 71 persen populasi merupakan angkatan kerja produktif.
BI Apresiasi Ekonomi Lampung
Deputi Gubernur BI, Thomas A.M. Djiwandono mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Lampung mencapai 5,29 persen pada triwulan II-2026, tertinggi kedua di Sumatra.
“Tantangannya tak hanya bagaimana ekonomi tumbuh, tapi bagaimana pertumbuhan itu menghasilkan nilai tambah yang kian luas bagi masyarakat. Karena itu hilirisasi dan investasi menjadi luar biasa pentingnya,” ujar Thomas.
Ia menjelaskan, sesuai Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, BI tak hanya fokus stabilitas moneter dan inflasi, tapi juga mendorong sektor riil.
Di tingkat pusat, sinergi dibangun secara terpadu bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, hingga Danantara sebagai katalis investasi.
BI juga siap menggerakkan jaringan kantor perwakilan dan perwakilan luar negeri guna menarik minat investor ke berbagai potensi unggulan Lampung.
Tiga Pendekatan BI Kawal UMKM
BI menyiapkan tiga pendekatan mengawal UMKM, yaitu penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas manajerial dan mutu produk, serta perluasan akses pembiayaan. Komoditas unggulan Lampung, seperti olahan pisang, kopi, dan wastra didorong tembus pasar ekspor.
Percepatan digitalisasi juga terus digenjot. Data BI menyebutkan, hingga Juli 2026 tercatat 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung atau tumbuh 17,38 persen (yoy) dengan 916.000 merchant tumbuh 29,29 persen (yoy).
Kepala Perwakilan BI Lampung, Bimo Epyanto mengatakan Begawi tahun ini lebih komprehensif. Jika sebelumnya fokus pameran UMKM, kini juga memetakan sumber pertumbuhan ekonomi baru dan membuka ruang investasi.
“Sebelumnya murni showcasing produk UMKM. Tahun ini kami ingin menyampaikan yang sudah kami lakukan, bagaimana bekerja sama dengan provinsi dan kabupaten/kota untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan nilai tambah produk unggulan Lampung,” ujar Bimo.
Bimo menegaskan digitalisasi bukan sekadar mencegah kebocoran penerimaan, melainkan motor efisiensi ekonomi regional.
“Kami percaya digitalisasi merupakan upaya efisiensi. Efisiensi tak hanya mengurangi kebocoran anggaran, tapi efisiensi ekonomi secara umum,” jelasnya. (Pemprov Lampung)